Laksana Laron

Ini masih cerita di bulan puasa. Menjelang lebaran ternyata kantor saya semakin ramai dengan datangnya tamu dari luar. Dari bajunya kelihatan mereka bukan pegawai pemda. Beberapa teman mengatakan mereka adalah wartawan, sebagian menyebutnya sebagai aktivis LSM. Mungkin juga mereka hanya tamu biasa yang ingin bersilaturahmi dengan pimpinan.

Melihat ini saya langsung teringat dengan laron. Laron adalah binatang terbang yang keluar di malam hari. Seringnya bergerombol dan suka mendatangi cahaya. Laron adalah mereka. Cahaya adalah pejabat. Sedangkan malam hari adalah momentum atau kesempatan.

Ternyata fenomena ini tidak hanya menimpa di kantor saya saja. Berbondong-bondong mereka berpindah ke kantor-kantor lain. Entah apa yang mereka lakukan di dalam ruangan pimpinan masing-masing kantor. Mereka sendirilan yang paling tahu. Sebagaimana laron yang mendatangi cahaya. Beberapa orang mendekati pejabat untuk (barangkali) memperoleh keuntungan materi. Bisa juga keuntungan yang lain, seperti kedekatan, relasi, akses, politis, atau informasi.

Saya dan Anda jangan keburu curiga keduanya berbuat jahat. Inilah yang disebut simbiosis mutualisma. Hubungan yang saling membutuhkan. Pejabat membutuhkan pencitraan, sarana yang dibutuhkan adalah media massa. Sedangkan mereka membutuhkan finansial untuk kelangsungan dapur dan oplah, maka dibutuhkan sokongan dana.

Siapa yang memulai hubungan itu? Entahlah. Bisa jadi keduanya serentak saling membutuhkan karena lamanya interaksi sehingga tahu sama tahu. Bisa jadi salah satu yang lebih membutuhkan, karena mempunyai borok yang malu bila diungkapkan ke hadapan khalayak.

Tapi, mohon maaf, saya tidak sedang menghakimi bahwa para pejabat yang sering didatangi mereka adalah pejabat bermasalah yang penuh borok. Saya juga enggan berburuk sangka kepada mereka telah memanfaatkan profesinya untuk melanggar kode etik. Saya sungguh tertarik dengan interaksi di antara keduanya. Barangkali ada sukarelawan yang mau membuat reportasenya?

Sampai kapan hubungan ini terus langgeng? Sebagaimana politik. Tidak ada yang abadi, yang abadi adalah kepentingan itu sendiri. Pikir saya.

Mata ini kadang salah melihat, mulut ini kadang salah berucap, dan hati ini kadang salah menduga. Indahnya Ramadhan dapat berpuasa dengan penuh ketaatan, indahnya Idul Fitri dapat saling memaafkan.

Taqqobalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Selamat Idul Fitri 1433H

Melu kategori : ArtikelCerita BebasNgawi

3 Responses to “Laksana Laron”

  1. Aryan says:

    Hehe masih sendiri, Perkenalkan saya Aryan dari pelosok Ngawi juga turut mengucapkan selamat Idul Fitri 1433H kepada seluruh sedulur Kota Ngawi. #yerrrr…

    nganggo Chromium 18.0.1025.151 Chromium 18.0.1025.151 neng Ubuntu 12.04 Ubuntu 12.04
    Mozilla/5.0 (X11; Linux i686) AppleWebKit/535.19 (KHTML, like Gecko) Ubuntu/12.04 Chromium/18.0.1025.151 Chrome/18.0.1025.151 Safari/535.19
    • SanG BaYAnG says:

      Yen dewe berarti kendel.. :lol:

      “Selamat Idul Fitri 1433H” juga untuk semua yang sempat membaca, sing gak sempat mbaca gak perlu oleh ucapan iki.. :mrgreen:

      nganggo Firefox 9.0a2 Firefox 9.0a2 neng Mac OS X 10.6 Mac OS X 10.6
      • Mozilla/5.0 (Macintosh; Intel Mac OS X 10.6; rv:9.0a2) Gecko/20111101 Firefox/9.0a2
  2. Hany says:

    siapa doyan laron?? hehe mohon maaf lahir batin juga untuk sahabat ngawi,..:D

    nganggo Chromium 14.0.835.202 Chromium 14.0.835.202 neng Ubuntu 11.10 Ubuntu 11.10
    Mozilla/5.0 (X11; Linux i686) AppleWebKit/535.1 (KHTML, like Gecko) Ubuntu/11.10 Chromium/14.0.835.202 Chrome/14.0.835.202 Safari/535.1