MIM, Alat Pantau Yang Diandalkan Warga Kawasan Rawan Banjir
Sejumlah warga Purwosari dan Kendung bersama Perum Jasa Tirta kemarin tampak berkerumun di sekitar jembatan Kendung. Di tepian jembatan itu dilakukan uji coba alarm banjir yang dipasang pasca banjir hebat yang menerjang Ngawi tahun 2007 lalu.
Alarm yang dinamai Monitoring Instrument Masyarakat (MIM) itu diseting dapat memberikan sirene peringatan bagi warga saat banjir mengancam. “Dengan MIM ini, kami harap masyarakat bisa tahu bahaya banjir, sehingga dapat menyelamatkan diri,” kata Mas’ud, penemu MIM dari Perum Jasa Tirta.
Prinsip kerja MIM ini ketika ketinggian air mencapai titik tertentu akan ada nyala biru. Saat air naik makin tinggi, lampu warna hijau mulai berputar dan sirine berbunyi. Saat ini, warga sekitar kawasan banjir bisa bersiap-siap. Sementara bila nyala MIM mulai merah disertai bunyi sirene, saat itu warga diharapkan sudah terevakuasi ke tempat aman.
“Kekhawatiran banjir itu kalau datangnya saat malam hari, kalau pada siang hari banyak warga yang bisa mengantisipasinya,” kata Mas’ud di sela uji coba alarm banjir yang dipasang di tepi Jembatan Kendung itu, kemarin..
Di seluruh Ngawi, ada 5 titik pemasangan alarm banjir. MIM ini dipasang di berbagai titik sepanjang kawasan DAS Solo misalnya di sekitar Bengawan Madiun maupun Bengawan Solo. “Soal ketinggian air yang dapat membuat alarm menyala, tergantung kebutuhan di kawasan sekitar pemasangan, makanya dinamakan monitoring instrument masyarakat,” kata Mas’ud.
Beberapa tempat di Ngawi yang terpasang alarm banjir ini akan berbunyi bila ketinggian air sudah mencapai level bahaya. Namun untuk Kendung, karena di bawah jembatan dan berbatasan langsung dengan Bengawan Madiun, ada perumahan, ketinggian air disesuaikan. “Sedangkan sirine dapat berunyi dengan nyaring terutama saat malam hari diperkirakan terdengar sampai radius 2 kilometer,” kata Mas’ud. ****(isd)
jawapos
Random Post
Comments
Katakan pada kami tentang tulisan diatas...
















